Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

Peringati Hari Buruh, JPIT Undang Pdt. Emmy Sahertian

Facebook
Twitter
LinkedIn

Rabu, 1 Mei 2025, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) selenggarakan diskusi Hari Buruh dengan mengundang Pdt. Emmy Sahertian dari Divisi Lobby dan Advokasi, Zero Human Trafficking Network (ZHTN) sebagai pembicara utama. Kegiatan ini berlangsung di Kantor JPIT, peserta merupakan jemaat GMIT Mizpa Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu.

(Foto: Narasumber Pdt. Emmy Sahertian)

JPIT merupakan sebuah lembaga riset dan publikasi dengan fokus pada bidang kajian perempuan, agama dan budaya di wilayah Indonesia Timur. Diskusi ini hadir dalam rangka memperingati Hari Buruh dengan tema Jaminan Hukum bagi Perlindungan Hak Buruh serta tantangan Buruh di Era Digital.

Mengawali diskusi ini dengan pertanyaan ‘apa itu buruh?’ kepada para peserta. Tujuannya adalah menyamakan perspektif bahwa yang dimaksud dengan buruh adalah semua orang yang bekerja untuk mendapatkan uang.

Pdt. Emmy juga menyertakan sejarah gerakan buruh internasional dan di Indonesia dalam penjelasannya. Juga menyertakan bahwa tujuan dari memperingati Hari Buruh adalah menuntut perbaikan kondisi kerja yang meskipun banyak kemajuan yang telah dicapai banyak buruh masih memperjuangkan kesejahteraan mereka, menegakkan hak-hak pekerja seperti upah yang adil, jaminan sosial, dan kondisi kerja yang aman, menunjukkan solidaritas antar buruh karena merupakan kesempatan bagi pekerja dari berbagai sektor untuk bersatu dan memperjuangkan hak-hak mereka, juga mengenang para pejuang buruh yang telah berkorban untuk hak-hak pekerja.

(Foto: Suasana Kegiatan)

Menurutnya, ironi para pekerja informal adalah menjadi korban TPPO dan Perbudakan modern karena mudah dieksploitasi, dimanfaatkan untuk Secret Business (bisnis gelap dan ilegal), perempuan dan anak paling rentan, dan menjadi pilihan tidak ramah bagi kaum difabel.

Keadilan untuk buruh bukan sekedar tuntutan tahunan, ini panggilan untuk revolusi sistem kerja yang manusiawi dan berkeadilan. Buruh merakit masa depan bangsa, tapi hak mereka terus di rakit ulang demi keuntungan segelintir elit.

Diskusi ditutup dengan sebuah pertanyaan reflektif, ‘mau sampai kapan hal ini terus berlanjut?’ (Jeny).

More Posts

id_IDBahasa Indonesia