Upaya pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kerja yang saling terhubung antara advokasi di tingkat nasional dan penguatan kesadaran di tingkat komunitas. Youth Task Force Against Human Trafficking Network (YTF ATPPO) berupaya menjembatani kedua ruang tersebut melalui keterlibatan aktif dalam forum komunikasi publik serta kerja edukasi langsung di desa-desa dengan kerentanan migrasi yang tinggi.
Pada 18–22 November 2025, Jeny mewakili Youth Task Force Against Human Trafficking Network (YTF ATPPO) mengikuti Media Visit Jakarta yang diselenggarakan oleh Siklus Indonesia bekerja sama dengan UNFPA (United Nations Population Fund) dan mitra pelaksana. Kegiatan ini bertujuan mendukung pencapaian Output 5 UNFPA, yaitu meningkatnya kesadaran, pemahaman, dan dukungan publik serta pemangku kepentingan terhadap mandat UNFPA, agenda ICPD (International Conference on Population and Development), dan pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) melalui komunikasi yang efektif dan berbasis bukti.

Media Visit Jakarta dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik bagi jurnalis dan konten kreator untuk memperkuat isu kependudukan, kesehatan reproduksi, serta perlindungan kelompok rentan dalam narasi publik. Peserta merupakan jurnalis dan konten kreator terpilih yang sebelumnya mengikuti pelatihan di Kupang dan Medan, dan diharapkan menghasilkan produk liputan yang dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peluncuran Dokumen Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029 sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045, dilanjutkan dengan kunjungan ke Kantor UNFPA untuk memahami mandat dan program kerja lembaga tersebut.
Hari berikutnya diisi dengan Press Briefing kampanye UNITE dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang menekankan pentingnya literasi digital, penegakan hukum yang berpihak pada korban, serta tanggung jawab platform digital dalam menciptakan ruang aman. Kunjungan ke UPT PPPA DKI Jakarta memberikan gambaran nyata tentang penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk TPPO yang meningkat pada masa pandemi Covid-19.
Diskusi dengan Focal Point ICPD 2030 (FP2030) memperkaya pemahaman peserta mengenai pentingnya keluarga berencana berbasis hak dan sukarela yang dijalankan melalui kemitraan global dengan peran sentral pemuda dan sinergi lintas sektor. Kunjungan ke Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia juga membuka perspektif tentang peran strategis bidan dalam kehidupan perempuan, sejak masa kehamilan hingga persalinan.
Partisipasi dalam pembukaan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan di Monas menutup rangkaian Media Visit Jakarta, sekaligus menegaskan pentingnya suara kolektif dalam melawan kekerasan berbasis gender, baik di ruang fisik maupun digital.
Bagi YTF ATPPO, Media Visit Jakarta bukan hanya tentang peliputan kegiatan, tetapi juga tentang membangun narasi yang berpihak pada korban dan memperkuat kesadaran publik. Narasi inilah yang kemudian dibawa kembali ke konteks kerja lapangan dan komunitas.
Kerja advokasi dan komunikasi publik yang dibangun di tingkat nasional menemukan relevansinya dalam praktik nyata di tingkat desa. Pada Sabtu, 6 Desember 2025, dua anggota Youth Task Force Against Human Trafficking (YTF ATPPO) menyelenggarakan kegiatan edukasi bagi Pemuda Gereja Kemah Injil di Desa Kiuoni. Kegiatan ini mengangkat isu Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), migrasi aman, serta pelibatan laki-laki dan anak laki-laki dalam pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG).
Migrasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya untuk tujuan bekerja. Namun, keterbatasan pengetahuan, kompleksitas prosedur migrasi kerja, serta kuatnya praktik migrasi tidak aman membuat calon pekerja migran rentan menjadi korban TPPO. Di Desa Kiuoni, sebagian besar pekerja migran diketahui bermigrasi tanpa dokumen lengkap dan melalui P3MI ilegal, yang berdampak pada pelanggaran hak dan meningkatnya risiko kekerasan.

Selain faktor struktural tersebut, YTF ATPPO juga menyoroti kuatnya budaya patriarki yang mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat. Posisi perempuan yang kerap dipandang sebagai kelompok subordinat menjadikan mereka lebih rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi, baik di ranah domestik maupun dalam konteks migrasi kerja.
Sebagai metode edukasi yang kontekstual, kegiatan ini dilengkapi dengan pemutaran film dokumenter Kabar dari Medan? dan Through the Screen. Kedua film tersebut memperlihatkan bahwa TPPO dapat menimpa siapa saja, termasuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dan akses informasi yang baik.
Kegiatan edukasi ini mendapat apresiasi dari pemerintah desa yang diwakili oleh Kaur Pembangunan dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kiuoni. Pemerintah desa juga mendorong adanya kolaborasi lanjutan dengan topik-topik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, seperti kesehatan reproduksi dan stunting.
Di akhir kegiatan, para pemuda gereja menyatakan komitmen untuk terlibat aktif dalam pencegahan TPPO dan KBG, mulai dari saling mengingatkan, melaporkan kasus kepada pihak berwenang, hingga melakukan edukasi sebaya dan kampanye di tingkat komunitas.
Pengalaman YTF ATPPO dalam Media Visit Jakarta dan kegiatan edukasi di Desa Kiuoni menunjukkan bahwa pencegahan TPPO membutuhkan keterhubungan antara kerja advokasi di tingkat nasional dan aksi nyata di tingkat komunitas. Ketika narasi yang dibangun di ruang publik nasional dapat dipahami dan dihidupi di tingkat lokal, upaya pencegahan menjadi lebih relevan, berkelanjutan, dan berdampak.
Melalui pendekatan ini, YTF ATPPO terus memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani isu, pengetahuan, dan aksi, demi terwujudnya migrasi yang aman serta kehidupan yang bermartabat bagi semua. (Jeny)





