Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN) berkolaborasi dengan Zero Human Trafficking Network (ZHTN) dan Yayasan Pulih menyelenggarakan Lokakarya Penguatan Psikologis Pekerja Kemanusiaan dalam Isu TPPO dan TPKS di NTT: Mendampingi, Merawat dan Menguatkan di Kupang pada 5-7 Maret 2025.
Institut DIAN melihat bahwa dalam perjalanan bersama dengan pekerja kemanusiaan, kebutuhan mereka tidak saja dari segi keterampilan teknis, praktis, tetapi juga perlu keberanian, kesungguhan, hati nurani dan kerelawanan, kesabaran, pemikiran positif, cinta kasih, kejujuran, bahkan sampai tidak takut mendapat ancaman atau mengorbankan perasaan, waktu, keluarga, bahkan hidup.
Untuk itu diperlukan langkah khusus untuk memberikan perhatian dan dukungan pada Pekerja Kemanusiaan. Kesejahteraan psikologis merupakan hal yang sangat penting, sama pentingnya dengan tanggung jawab pekerjaan yang diembannya.
Ada 30 peserta lokakarya yang dihadirkan dalam lokakarya ini dan berasal dari berbagai komunitas dan organisasi yang bergerak di isu kemanusiaan yang ada di NTT.

Hari pertama kegiatan lokakarya ini diisi dengan dialog yang secara khusus membahas tentang mencari solusi agar manusia tidak diperdagangkan, kekerasan terhadap perempuan tidak menjadi kebiasaan. Panelisnya adalah Pater Dr. Leo Mali (Dosen Filsafat STFK Kupang), Dr. Antonius Wibowo (Wakil Ketua LPSK), Pdt. Merry Kolimon (salah satu ketua PGI 2025-2029), dan Sonya Helen Sinombor(Jurnalis KOMPAS). Selanjutnya peserta di ajak untuk merefleksikan kembali inspirasi menjadi pekerja kemanusiaan, suka dan duka dalam menjalankan pekerjaan masing-masing.
Hari kedua, peserta kembali di ajar untuk memulihkan diri, mengelola luka batin untuk terus dapat memperjuangkan keadilan. Hari terakhir lokakarya, peserta belajar tentang mekanisme kelembagaan untuk merawat Pekerja Kemanusiaa, juga peserta diajak untuk melakukan percakapan satu sama lain untuk membangun penguatan sebagai seorang Pekerja Kemanusiaan, diakhiri dengan mendirikan Pohon Pemulihan sebagai pengingat bahwa setiap masalah yang dihadapi pasti akan diselesaikan. Kegiatan hari kedua dan ketiga difasilitasi oleh Miryam Nainggolan dari Yayasan Pulih, Elga Sarapung dari Institut DIAN, Gabriel Goa dari PADMA Indonesia, Sr, Genobeba Amaral, dan Sonya Sinombor.

Herlin, salah satu peserta lokakarya yang mewakili Hanaf Perempuan Flobamoratas mengungkapkan harapan agar kegiatan seperti ini bisa terus ada untuk membakar semangat para Pekerja Kemanusiaan karena pekerjaan untuk kemanusiaan masih sangat banyak dan masih membutuhkan semangat bersama lahir dan batin untuk maju terus tanpa putus asa. (Jeny)





