Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

Youth Task Force Against Human Trafficking serukan ‘Semakin Ditekan, Semakin Melawan’ dalam Indonesian Civil SOciety Forum

Facebook
Twitter
LinkedIn

Indonesian Civil Society Forum (ICSF) merupakan forum tahunan untuk membahas dan mendukung isu-isu masyarakat sipil dan organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Dalam rangka menarasikan gerakan dan manfaat kerja-kerja aktor masyarakat sipil secara solid, segar dan menarik bagi publik, serta kebutuhan untuk mengembangkan narasi baru dan strategi untuk mendukung ekosistem gerakan yang tangguh, Komite Pengarah, YAPPIKA, Humanis, PeaceGeneration, dan PAMFLET menyelenggarakan kegiatan “Indonesia Civil Society Forum 2025’ bertema ‘Membela Demokrasi, Menuntut Keadilan: Menaut Gerak Masyarakat Sipil pada 5-6 November 2025 di Jakarta.

ICSF 2025 berfokus pada cara-cara di mana masyarakat sipil telah membela demokrasi dan dapat terus menuntut keadilan sosial. Resiliensi masyarakat sipil bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dan mempertahankan kepercayaan komunitas – untuk tetap relevan – bahkan di tengah tekanan yang semakin besar. Banyak OMS masih membutuhkan peningkatan kapasitas, terutama di tingkat lokal. Keberlanjutan finansial tetap menjadi isu yang mendesak, terutama mengingat perubahan terbaru dalam lanskap dukungan internasional. Untuk menciptakan dampak, diperlukan pertautan dan bentuk-bentuk baru aksi sipil, termasuk aktivisme digital, mobilisasi media sosial, inisiatif teknologi sipil untuk akuntabilitas, laboratorium inovasi, platform data terbuka, e-governance, dan aksi-aksi budaya yang bersifat interseksional. Banyak dari inisiatif ini didorong oleh gerak orang muda yang cakap teknologi. Inovasi dan gerakan baru ini akan menjadi sorotan utama pada tahun 2025.

Forum ini diikuti oleh salah satu anggota Youth Task Force Against Human Trafficking (YTF ATPPO), sebagai bagian dari organisasi orang muda yang bersentuhan langsung dengan akar rumput dalam upaya preventif Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menggurita di Nusa Tenggara Timur (NTT).

ICSF 2025 dibuka dengan pidato kunci dari Dr. Atnike Nova Sigiro dari Komnas HAM. Fokus utama adalah membela ruang kebebasan sipil sebagai fondasi demokrasi dan melindungi pembela hak asasi manusia di Indonesia. Beliau juga menekankan bahwa tidak ada pihak yang dapat bekerja sendiri menghadapi tantangan ini dan sinergi adalah keharusan sehingga perlu kolaborasi antara lembaga negara, masyarakat sipil, dan media independen.

Ada pemetaan skenario bagi organisasi masyarakat demokrasi Indonesia saat ini dan 10 tahun ke depan melalui diskusi. Definisi skenario tersebut adalah tumbuh (berkembang dalam eksistensi asli; membangun sistem perlindungan, menjalankan peran secara lebih kuat dan lebih luas), bertahan (memakai inovasi yang ada dan proyek; menghadapi krisis eksternal dengan adaptasi, menjaga peran utama tanpa ekspansi besar), terkontrol (ruang gerak dibatasi; dominasi kekuasaan mengarahkan; kemampuan gerak ada tapi diawasi), terpinggirkan (entitas sipil terdesak oleh dominasi kekuasaan, dinasti, orientasi sektor privat, dan krisis seksual).

Ada 10 sesi breakout room dalam event ini yaitu:

  1. Bentuk-bentuk Inisiatif Baru Peningkatan Kapasitas & Kepemimpinan OMS
  2. Media dan Gerakan: Menguatkan Kolaborasi antara Media dan Gerakan Sipil untuk Mempertahankan Ruang Demokrasi
  3. Aksi Kolektif Perempuan
  4. Melindungi Ruang bagi Masyarakat Sipil di Tengah Legalisme Otoriter
  5. Promoting Peace and Tolerance
  6. Mendukung Perlawanan Organik dari Basis
  7. Bentuk Baru Jaringan dan Gerakan Sosial Berbasis Interseksionalitas
  8. Merawat Daya Komunitas yang Terpinggirkan
  9. Keadilan Antar Generasi dan Partisipasi Bermakna Orang Muda
  10. Pembela Keadilan Iklim dan Lingkungan

Peserta forum bisa memilih dua sesi untuk dua hari kegiatan, Jeny—perwakilan YTF ATPPO memilih sesi Aksi Kolektif Perempuan untuk hari pertama dan Mendukung Perlawanan Organik dari Basis di hari kedua.

Aksi Kolektif Perempuan, diskusi ini membahas aksi kolektif perempuan dalam rangka membela demokrasi, dengan fokus pada pengalaman lapangan, strategi solidaritas, ruang aman, dan penguatan kepemimpinan perempuan akar rumput. Tiga organisasi yang menjadi pemantik diskusi adalah Solidaritas Perempuan, PEKKA, dan Yayasan Pulih. Sesi Mendukung Perlawanan Organik Basis merupakan diskusi yang secara khusus membahas perlawanan organik dari bawah sebagai gerakan yang lahir alamiah dari pengalaman ketertindasan, dengan fokus pada pemetaan gerakan akar rumput, peluang kolaborasi dan tantangannya. Dengan pemantik diskusi dari Gemawan. Dalam kesempatan ini Jeny mengangkat satu komunitas orang muda di Desa Bokong, Kabupaten Kupang, NTT yaitu Komunitas Tun Af Nekan (Pucuk Harapan). Komunitas ini hadir sebagai upaya pemuda/i Desa Bokong dalam aksi kolektif dan edukasi TPPO karena Desa Bokong menjadi salah satu desa yang menjadi ‘kantong buruh migran.’

Kalimat ‘semakin ditekan, semakin melawan’ merupakan sebuah seruan bersama saat panel diskusi terakhir. Kalimat ini muncul sebagai perlawanan masyarakat sipil yang semakin kuat meskipun ditekan. Dari diskusi ini juga, menjawab tema ICSF tahun ini tentang menautkan gerakan, yang berarti membangun konsolidasi permanen yang luas dan inklusif, menciptakan platform politik bersama, memperkuat basis dukungan konstituen (merujuk pada masyarakat basis dalam organisasi, gerakan atau partai politik), menggandeng bisnis sebagai mitra strategis, menggunakan metode dialog dan regenerasi yang efektif serta membangun visi dan misi bersama inklusif, berkeadilan dan demokratis yang menyatukan. (Jeny)

More Posts

id_IDBahasa Indonesia