Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

National Education Day Commemorating, TRUK holds Speech Competition about Anti-Human Trafficking

Facebook
Twitter
LinkedIn

The women Division of the volunteering for humanity (Tim Relawan Untuk Kemanusiaan or TRUK) held a speech contest for students of senior high and the same levels of Sikka regency to commemorate the national education day at Pelita Hotel, Maumere on Tuesday February 2nd 2022 at 09.00 Indonesia centre time (WITA).

The contest was attended by the head of Education, Youth and Sports (Pendidikan, Kepemudaan dan Olarga or POK) office, Sikka regency, Mr. Yosep Sales, TRUK Women division, Sr. Fransiska Imakulata, SSpS and the staff, teachers of schools in Sikka regency who was accompanying their students as contestants of the contest, and the judges.

“Realizing Generation Freed from Human Trafficking” is the theme of the event. This event was hosted by Frt. Hendra Justian, SVD as well as master of ceremony (MC). He stated that this event aimed to make people especially young generation (students) aware to the human trafficking issues. “There are many cases of human trafficking that the victims are women, children and students. Therefore, this event is willing to be the step to make young generation understand the impacts of human trafficking and the preventing to the issue that probably start from the school environment.” master of ceremony (mc). Dalam sapaan awalnya, Frater Hendra menandaskan bahwa lomba yang diselenggarakan pihak Divisi Perempuan TRUK bertujuan memberi penyadaran kepada generasi milenial di sekolah-sekolah tentang isu-isu yang berkaitan dengan bahaya perdagangan orang (human trafficking). “Banyak temuan kasus human trafficking menyasar perempuan dan anak-anak, termasuk pelajar. Oleh karena itu, kegiatan ini merupakan langkah awal bagi para pelajar agar mengetahui bahaya perdagangan manusia dan mulai melakukan tindak pencegahan di lingkungan sekolah,” tandas Frater Hendra.

Hendra emphasized that this competition would search for a winner to become an Anti-Human Trafficking Ambassador in Sikka Regency. “the winner or the ambassador would be a permanent partner of the TRUK to socialize and campaign to eradicate the crime act of human trafficking in schools in Sikka regency.” He said. Human Trafficking di Kabupaten Sikka. “Adapun tugas yang mesti diemban oleh Duta terpilih yakni menjadi partner tetap dari TRUK sehubungan dengan sosialisasi dan kampanye pemberantasan human trafficking di sekolah-sekolah se-Kabupaten Sikka,” tutup Frater Hendra.

Greetings 

Greetings were delivered by the TRUK women’s division, Sr. Fransiska Imakulata, SSpS and the head of education, youth and sports office, Mr. Yosep Sales after singing the national anthem of Indonesia (Indonesia Raya) and the silence moment to contemplate Indonesian heroes’ merits (mengheningkan cipta), led by Mr. Yosep Sales.

Sr. fransiska, SSpS began her greeting by emphasising the aim of the event. She stated that this event (which coincided with the National Education) was intended to students and teachers are able to reflect the three mottoes of Ki Hadjar Dewantara (the father of Indonesian national education) Ing Ngarso Sung Tulada (at the front gives example),Ing Madya Mbangun Karsa (in the middle gives support),Tut Wuri Handayani (at the back gives encouragement) “have the students and teachers lived of the three mottoes in your school and community?” she asked. Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani. “Apakah para guru dan pelajar sudah menghayati tiga semboyan ini dalam lingkungan sekolah, juga dalam relasi sosial di tengah masyarakat?”

Sister Fransiska simply explained the meaning of “freed from human trafficking” as the theme of the event in order to make all the audience more understand. “I’m afraid people would get narrow conclusion of the words (freed from human trafficking) so that they would not have willingness to fight against the case. In fact, people especially young generation guarding in preventing the criminal act of human trafficking and fight for victims’ rights” she said.

The students must be ready to become agents of change who are able to stop this grim situation because of the criminal act of human trafficking. “Based on the data, East Nusa Tenggara province is the province with the highest number of the case. Also, this province receives victims of the criminal act of human trafficking’s coffins very often. The students must be aware of this unpleasant situation and begin trying to change this situation by socializing the dangers of human trafficking and its various modes to theirs friends in their own school environment.” Sister Fransiska added.agent of change) yang mampu mengubah situasi suram perdagangan manusia di daerah ini. “Data yang ada menyatakan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi penyumbang terbanyak kasus perdangan orang, serentak menjadi provinsi penerima peti mati korban perdagangan orang. Para pelajar mesti menyadari situasi suram ini dan memulai langkah perubahan dengan memberikan penyadaran kepada teman sebaya di lingkungan sekolah tentang bahya perdagangan orang yang modusnya semakin beragam,” tambah Suster yang akrab disapa Suster Ika.   

In the end of her greeting, sister Fransiska thanked to the eight schools which responded to her invitation and participated to the event. She also thanked to head office of PKO, the judges and to the committees of the event. She closed her greeting by screaming the slogan “Hidup Pemuda Indonesia, Hidup Generasi Bangsa” which means long live Indonesian Youth, long live Generation of the Nation aloud then it copied by the audiences.

Mr. Yosep Sales as the head office of the POK also quoted the three mottoes of Ki Hadjar Dewantara which have been quoted by Sister Fransiska. “The three mottoes are historical manifestations of the nation which shouldn’t be forgotten. Those mottoes are the spirit of education and it seems very contextual in this regency, Sikka. The students and teachers must be aware and implement the three mottoes in their school environment and being friends for everyone.” He said.

Meanwhile, the head office of the PKO talked about the theme of the event which held by the TRUK women’s division. The theme was related to the situation in the province which increasingly happens. “Today’s moment makes us pay attention to the reality and our sad situation caused of human trafficking practical. There are many women and children are easily tempted by the instant jobs that offer high wages whereas the jobs aren’t accordance with the agreement. Subsequently, they become victims of the criminal act of human trafficking. He stated.

Mr. Yosep continued his greeting by stating that this event supported the government of Sikka regency. The winner of the contest as well as become an Anti-Human Trafficking Ambassador would assist the local government to visit schools socializing and campaigning the dangers of the criminal act of human trafficking in Sikka regency. “we will work together to raise student’s awareness to the case so that they will fight against it. I want to know the schools’ ability in influencing society to eradicate this case.” He added.

Selain itu, lanjut Kadis PKO, kegiatan ini membantu kerja pemerintah Kabupaten Sikka. Peserta yang nantinya dinobatkan sebagai Duta Anti Human Trafficking akan bersama-sama membantu kerja pemerintah daerah untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Kabupaten Sikka untuk mengkampayekan bahaya perdagangan orang. “Kita akan bekerja bersama memberikan penyadaran ke sekolah-sekolah agar melihat kasus perdagangan orang sebagai isu bersama yang mesti diberantas. Saya mau lihat bagaimana sekolah-sekolah mampu memengaruhi publik untuk memberantas kasus ini,” ujar Kadis PKO menutup sambutannya.

 

 

Jalannya Lomba

Seusai sambutan, para hadirin diberi waktu 15 menit untuk break sejenak untuk minum. Sesudah itu, hadirin diminta untuk memasuki Aula Hotel Pelita untuk memulai lomba pidato. Ada 13 peserta yang membawakan pidato mereka, di antaranya 4 orang peserta dari SMAK Baktyarsa, 2 peserta dari SMAK Santa Maria Monte Carmelo, 2 peserta dari SMK Negeri 3 Maumere, 1 peserta dari SMA Seminari Bunda Segala Bangsa, 1 peserta dari SMA Negeri 1 Maumere, 1 peserta dari SMAK Frateran Maumere, 1 peserta dari SMA Negeri 2 Maumere, dan 1 peserta dari SMK Negeri 1 Maumere.

Alur perlombaan yang ditempuh dalam lomba ini, yakni para peserta diminta untuk menarik lot yang sudah disapkan untuk mengetahui nomor urut lomba. Sesudah mendapatkan nomor urut tersebut, peserta diminta kembali ke tempat duduknya dan dipanggil sesuai nomor urut lalu mulai membawakan pidatonya. Seusai membawakan pidato, peserta diminta untuk tetap berada di podium dan menjawab pertanyaan dari juri sebagai bentuk pertanggungjawaban pidatonya. Adapun juri dalam lomba pidato ini, yakni ibu Hermina Wulohering, S.IP (Mantan Wartawan Majalah HIDUP, bekerja sebagai staf Pusat Layanan Bahasa STFK Ledalero, Maumere), Frt. Krispinus Ibu, SVD (Mahasiswa Magister Teologi Kontekstual STFK Ledalero, Maumere), dan Frt. Honoratus Jonsi, SVD (Mahasiswa Magister Teologi Kontekstual STFK Ledalero, Maumere).

Secara umum, setiap peserta lomba mampu membawakan pidatonya dengan apik dan memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diberikan oleh juri. Sementara itu, para hadirin menjaga suasana hening sehingga memungkinkan kelancaran perlombaan.

Pengumuman Juara dan Penobatan Duta

Seusai rangkaian acara lomba pidato, tepat Pkl. 13.00 WITA, semua orang yang hadir dalam kegiatan ini dipersilakan untuk menyantap makan siang bersama yang sudah diatur oleh panitia lomba.

Sesudahnya, para hadirin diundang masuk kembali ke dalam aula dan mendengarkan hasil perlombaan sesuai dengan kalkulasi nilai yang sudah dibuat oleh tim juri. Berdasarkan ketentuan panitia lomba, ada 5 peserta yang nantinya akan mendapatkan hadiah lomba berupa sertifikat penghargaan dan uang. Besaran uang ditentukan dari berdasarkan urutan juara.

Sesuai kalkulasi nilai yang dibuat tim juri, ada 5 peserta yang berhak mendapatkan sertifikat dan uang, dengan urutan sebagai berikut:

  1. Maria Laurdesta, peserta dari SMAK Santa Maria Monte Carmelo, menjadi juara kelima (jumlah poin: 1675): mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp. 250.000,-
  2. Maria Putri Natalia Sota, peserta dari SMK Negeri 1 Maumere, menjadi juara keempat (jumlah poin: 1677): mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp. 350.000,-
  3. Mario Antonio Oktaviano Woga, peserta dari SMA Seminari Bunda Segala Bangsa, menjadi juara ketiga (jumlah poin: 1765): mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp. 600.000,-
  4. Agnes Noni Samara, peserta dari SMAK Frateran Maumere, menjadi juara kedua (jumlah poin: 1790): mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp. 800.000,-
  5. Antonia Maria Wain, peserta dari SMAK Baktyarsa, menjadi juara pertama (jumlah poin: 1800): mendapatkan sertifikat dan uang sebesar Rp. 1.000.000,-

Seusai pengumuman juara lomba pidato, kegiatan dilanjutkan dengan penobatan Duta Anti Human Trafficking. Berdasarkan urutan dan perolehan poin di atas, peserta yang dinobatkan sebagai Duta Anti Human Trafficking adalah Antonia Maria Wain (peserta dari SMAK Baktyarsa). Penobatan ini dibuat dengan pemberian selendang Duta oleh Kadis PKO didampingi Koordinator Divisi Perempuan TRUK. Penobatan ini diselingi dengan pesan singkat berkaitan dengan perlawanan terhadap perdagangan orang yang diberikan oleh Kadis PKO, Koordinator Divisi Perempuan TRUK, dan Duta Anti Human Trafficking.

Sesudahnya, kegiatan perlombaan yang diselenggarakn oleh Divisi Perempuan TRUK ini diakhiri dengan foto bersama.*** (Fr. Kris Ibu, SVD)

 

More Posts

en_USEnglish