"My name is Putri", with a little smile, the dark blonde girl introduce herself. Her skin was so bright that it was different from the other children who were there. However, who would have thought that such a small child had such a painful experience. Even before turning nine years old, his life had been injured. She brought a wound that might take a long time to heal.

Putri, siswi kelas IV Sekolah Dasar asal Kampung Rego,
Manggarai Barat itu harus menerima pelecehan seksual yang dilakukan gurunya sendiri. Sebuah tindakan keji dari seorang pendidik yang seharusnya menjaga dan memelihara hidup dan masa depan murid-muridnya. Putri tak tahu mengapa suatu hari, hanya ia seorang diri yang diajak masuk ke dalam toilet oleh Pak Guru. Di ruangan itu, ia dipaksa melayani nafsu seksual gurunya. Putri dipaksa hingga tak berdaya. “Kalau saya tidak menurutinya, dia tarik rambut saya. Dia ancam saya mau bunuh lewat jalan pintas,” tutur Putri.
Kurang lebih satu tahun lamanya, tindakan yang sama itu berulang. Putri hanya bisa menanggung penganiayaan lahir dan batin itu dalam diam. Ia takut dan harus mengunci mulutnya di bawah ancaman pembunuhan. Bahkan sesekali ia berbohong kepada orangtuanya sendiri, manakala mereka menangkap tanda-tanda derita yang dialami.
Karena derita tak tertahankan, Putri memberanikan diri untuk menceritakan kejadian yang dialami kepada kakaknya. Berkat bantuan dan pendampingan dari Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan dari para Biarawati Katolik SSpS Flores Barat akhirnya kasus ini diproses oleh pihak kepolisian. Pelaku itu telah ditangkap dan dibawa dalam proses pengadilan.
Kini masih sulit bagi Putri pulang ke kampung halamannya. Trauma itu telah mencekam batinnya. Bahkan ia masih takut untuk tinggal di wilayahnya. Maka, Rumah Singgah itu sekarang menjadi tempat baginya untuk berlindung. Di sana ia berharap dapat memulihkan bilur-bilur luka-luka jiwanya. “Di sini saya jadi lebih tenang dan aman. Saya senang bisa sekolah lagi,” ungkap Putri dengan wajah lebih bersemangat.
Anak yang bercita-cita menjadi seorang biarawati ini, sesekali masih takut dan cemas bertemu dengan orang asing. Apalagi dengan seorang laki-laki. Masih tertinggal di benaknya ancaman dan kekerasan yang pernah dirasakannya. Meski masih sangat belia, ia tidak menyerah pada keadaan. Putri bertekad untuk bersekolah lagi.

Selain melakukan pekerjaannya sebagai murid Sekolah Dasar, ia juga belajar mengurus rumah. Setiap pagi, lantai ruang tamu pasti sudah kembali mengkilap dibersihkannya. Di sore hari, gadis kecil itu bertugas membersihkan halaman depan rumah singgah. Ini salah satu cara yang diajarkan agar ia bisa hidup mandiri di kemudian hari.






